Momentum Lebih Mengenal Diri Melalui Puasa

Posted on

Bulan Ramadhan sungguh menjadikan manusia ini agar selalu instropeksi diri. Memahami bagaimana manusia kesehariannya.

Yang mana dalam diri manusia itu terdapat dua macam naluri yang terkadang sulit untuk diatur.

Naluri perut yang berkeinginan untuk selalu makan dan minum kemudian naluri seks yang manakala selalu bergelora sehingga membuat kewalahan dalam mengendalikannya.

Puasa di bulan Ramadhan sendiri hakekatnya adalah bagaimana melatih dan mengajari manusia untuk mengendalikan naluri tersebut yang cenderung sulit dikontrol.

Pengalaman dalam sejarah umat ini, ada orang-orang yang hanya berorientasi kepada hidup didunianya saja, namun ada pula yang berorientasi memikirkan rohaninya saja.

Bagi mereka yang mengikuti kehendak hawa nafsu duniawinya saja maka apabila terpenuhi satu keinginannya, akan timbul lagi keinginan yang lain yang baru.

Nafsu syahwat manusia jika sudah terbakar maka akan sulit untuk membendungnya.

Dari sedikit lama kelamaan akan menyeretnya dalam kubangan yang lebih dalam.

Allah SWT pun tidak menyukai akan perilaku berlebihan sehingga lupa diri sebagaimana Allah SWT sendiri berfirman dalam surat Al-Hijr ayat 3 mengenai hal ini,

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).”

Kemudian mereka pun diibaratkan pula seperti binatang ternak, sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam surat Muhammad ayat 12,

“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan sepertinya makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.”

Keterlenaan diri dalam mengikuti hawa nafsu menjadikan hidup mereka dalam keadaan kosong.

Jiwa yang telah dikuasai nafsu akan menghalalkan segala tindakan.

Mengapa bisa terjadi, “Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria (dalam keadaan kemaksiatan).” Ghafir (40): 75

Kemudian bagi mereka yang berpandangan bahwa pengabdiannya kepada Tuhan itu harus menekan naluri manusiawi mereka, yaitu naluri seks.

Seakan-akan naluri tersebut bukan merupakan bagian dari jasad manusiawinya, sehingga mengesampingkannya.

Dalam hidupnya hanya untuk memenuhi kebutuhan rohaninya saja, sebagaimana yang dianut oleh gereja sejak dahulu kala.

Hal ini pun juga sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Bahkan belajar pula dari sejarah, orang-orang Barat kemudian malah kemudian melepaskan diri dari ajaran gereja, dan menggunakan waktu dan harta kekayaan mereka hanya untuk memenuhi nafsu syahwat jasmaninya.

Islam merupakan agama yang seimbang.

Ia tidak hanya menghormati rohani saja namun jasmani sekaligus.

Ajarannya memperhatikan nilai-nilai manusiawi yang mana merupakan bawaan manusia itu sendiri.

Dimana kebutuhan jasadnya mampu terlaksana namun tak lupa makanan rohani juga terpenuhi.

Dalam hal ini menjaga keseimbangan dan tidak baik dalam berlebihan harus menjadi pedoman dalam perilaku manusia itu sendiri.

Rasulullah SAW bersabda, “Makanlah dan minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan tidak diiringi kesombongan.” (HR. Bukhari)

Setelah jasmani dan ruhani terpenuhi, hendaknya tak lupa pula memperhatikan kehidupan dunia dan akhirat, sebagaimana Allah SWT mengingatkan kepada kita semuanya dalam firman-Nya surat An-Nahl ayat 30,

“Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa, “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab, “(Allah telah menurunkan) kebaikan”.

Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.”

Ajaran Islam itu tidak hanya menyadari satu sisi manusia yang mana untuk mensucikan dirinya, mengangkat derajatnya, mensucikan fisiknya (dengan mandi dan berwudhu), mensucikan jiwanya (dengan ruku’ dan sujud), namun di sisi lain tak lupa pula memikirkan ruhaninya yang mana menjadi penggerak jasadnya.

Islam menegaskan bahwa manusia itu terdiri dari jasad dan ruhani, yang mana itu harus imbang.

Allah SWT pun amat memperhatikan ruhani manusia, karena ruhani ini dengan sengaja diciptakan-Nya, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Shaad ayat 71-72,

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.”

Namun sekali lagi walaupun telah diperingatkan akan asal-muasal manusia, manusia itupun ada yang mengenali siapa yang meniupkan ruh kepadanya sehingga memuliakan-Nya dan seluruh makhluk-Nya.

Ada pula yang lupa bersyukur akan nikmat yang sudah diberikan atau dalam hal ini lupa siapa yang telah meniupkan ruh kepadanya.

Puasa Ramadhan ini tidak hanya menaikkan derajat umat-Nya sehingga jasmani dan rohaninya mendapatkan rahmat, kedamaian, ketenangan, kesucian jiwa, perilaku yang dihiasi akhlak yang mulia di tengah masyarakat.

Mengingatkan kembali akan nilai kebaikan yang telah dibawanya sejak lahir. Nabi Muhammad SAW telah bersabda,

“Bila salah seorang dari kalian berpuasa maka hendaknya ia tidak berbicara buruk dan aib. Dan jangan berbicara yang tiada manfaatnya dan bila dimaki seseorang maka berkatalah, ‘Aku berpuasa’. (HR. Bukhari)

Itulah mengapa bulan Ramadhan ini telah mengaitkan umat-Nya melalui ibadah puasa tidak hanya berorientasi kepada dunia namun juga akhirat, tidak hanya jasmani namun juga rohani, juga mengaitkan bumi dengan langit, mengaitkan manusia dengan wahyu.

Serta mengaitkan pula dunia dengan kitab-Nya yang merupakan pedoman untuk menerangi gelapnya jalan dunia sehingga sampailah pada tujuan yang hakiki.

Silahkan like dan share apabila bermanfaat.