Berburu Tanda Tangan Sampai Masalah Perasaan Ketika Bulan Ramadhan

Posted on

Yaa Allah! Jadikanlah puasa kami sebagai puasa orang-orang yang benar-benar berpuasa. Dan ibadah malam kami sebagai ibadah orang-orang yang benar-benar melakukan ibadah malam.

Dan jagalah kami dari tidurnya orang-orang yang lalai. Hapuskanlah dosa kami … Wahai Tuhan sekalian alam. Dan ampunilah kami, Wahai Maha Pengampun para pembuat dosa.

Kayaknya baru aja kemaren kita mengawali bulan Ramadhan, bagaimana perasaannya?

Beberapa hari ini kita juga sudah puasa seharian, gimana perasaannya?

Berat, malas, lapar, lemas atau senang, bahagia, antusias?

Atau.. ah biasa aja nggak ada perasaan apa-apa, lagian kan tiap tahun juga puasa sama tarawih. Wah jujur banget nih..

Teringat masih sekolah dulu kalau udah masuk Ramadhan, dikasi buku yang isinya tabel kotak-kotak sama sebagian deretan panjang titik-titik kosong.

Tipis sih bukunya enggak tebal kayak kamus legendaris Bahasa Inggris-Indonesia atau sebaliknya Indonesia Inggris yang warna garis-garis merah, biru, oranye karya pak John Echols.

Nah terus kira-kira disuruh ngapain nih sama buku tipis ini?

Ya kita harus ngisi puasa atau enggak, sholat 5 waktu apa enggak, sholat jum’at apa enggak, tawarih apa enggak, dimana sholatnya, siapa penceramahnya, judul ceramahnya, ringkasan ceramah, kapan tanggal dan waktunya, terus yang terakhir disuruh minta tanda tangan.

Tanda tangan siapa?

Yaitu tanda tangan Pak RT sama Pak RW.

Eh salah bukan, maksudnya ada 2 tanda tangan yang harus dikejar sama diburu tuh demi melengkapi beneran apa enggaknya kita sholat jamaah.

Jadi bayangin coba, habis tarawih tuh dah pada sigap, siap-siap pasang badan buat lari, mata ngelirik-ngelirik, yang baju merah jangan sampe lolos..

Eh.. lupa fokus, maksudnya yang baju koko putih sama yang baju batik jangan sampe lolos, kali aja kalau buruan lolos kan bisa bikin tambah masalah.

Karena jujur ini masalah perasaan.

Belum lagi kalau yang imam sama penceramahnya beda orang, bakalan perlu daya dan upaya tersendiri untuk meraihnya.

Tak cuma sekedar pandai, gesit, lihai, dan cepat yang diperlukan, yang lebih utama itu bulpennya hidup apa enggak, kan jadi gimana gitu sudah didepan pak imam sama pak penceramah eh maaf pak bulpennya ngadat.

“Loh ini kok isi ringkasan ceramahnya tulisannya bisa pada sama semua?”, si bapak penceramah heran.

“Lah ini kok, malah belum ditulis ringkasan ceramahnya dah minta tanda tangan aja?”, tambah geleng-geleng deh kepala pak penceramahnya.

Sebenarnya ngapain sih ada bulan Ramadhan segala? Bikin lemes aja.

Coba bayangin: puasa sebulan penuh, nggak boleh aneh-aneh, tiap pagi bangun dini hari buat sahur padahal masih ngantuk, habis itu disuruh ngaji sama ortu (padahal biasanya juga nggak pernah ngaji), apalagi kalau malem …wih, sholat tarawihnya lama banget! Mana imam di masjid sebelah rumah bacanya panjang dan lambat-lambat lagi, bikin pegel.

Akibatnya, kerjaan jadi nggak beres, belajar nggak bisa konsen, maunya tidur mulu!

Seperti rahib ngantuk di malam hari dan singa tidur di siang hari.

Yang asyik dari ramadhan paling cuma main petasan, sama waktu buka puasa (soalnya menunya biasanya sih cukup istimewa dibanding hari-hari biasa), waktu takbiran keliling, sama waktu pergi ke pasar buat beli baju baru (ini mau beli baju apa mau beli sayur mayur?)

Kira-kira kita termasuk orang yang berpikir seperti itu?

Atau kita termasuk orang yang oke-oke aja sama Ramadhan, tapi kok Ramadhan yang dijalanin terasa garing, biasa aja sih perasaannya?

Dari Salman Al-Farisi ra. berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada hari terakhir bulan Sya’ban: Wahai manusia telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, didalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Allah menjadikan puasanya wajib, dan qiyamul lailnya sunnah. Siapa yang mendekatkan diri dengan kebaikan, maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban di bulan yang lain.

Siapa yang melaksanakan kewajiban, maka seperti melaksanakan 70 kewajiban di bulan lain.

Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran balasannya adalah surga. Bulan solidaritas, dan bulan ditambahkan rizki orang beriman.

Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti orang orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun.

Kami berkata: Wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidak semua kita dapat memberi makan orang yang berpuasa?

Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:” Allah memberi pahala kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan satu biji kurma atau seteguk air atau susu.

Ramadhan adalah bulan dimana awalnya rahmat, tengahnya ampunan atau maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka.

Siapa yang meringankan orang yang dimilikinya, maka Allah mengampuninya dan dibebaskan dari api neraka.

Perbanyaklah melakukan 4 hal; dua perkara membuat Allah ridha dan dua perkara Allah tidak butuh dengannya.

2 hal itu adalah; Syahadat Laa ilaha illallah dan beristighfar kepada-Nya.

Adapun 2 hal yang Allah tidak butuh adalah engkau meminta surga dan berlindung dari api neraka.

Siapa yang membuat kenyang orang berpuasa, Allah akan memberikan minum dari telagaku (Rasul SAW) satu kali minuman yang tidak akan pernah haus sampai masuk surga” (HR al-‘Uqaili, Ibnu Huzaimah, alBaihaqi, al-Khatib dan al-Asbahani).

Nah apakah seiring waktu, seiring umur bertambah, antusiasme kita berkurang?

Sepertinya kita perlu deh merefresh kembali, coba baca-baca lagi, supaya tambah ilmu lagi biar mantap dan greget, gimana caranya supaya bulan Ramadhan ini bukan malah jadi bulan Serabutan, namun sebaliknya menjadi bulan Amalan.

Kalau pendapat saya sih, kenapa kok dari tadi nanyain melulu tentang perasaan.

Karena persiapan pertama kita adalah dengan merasakan bahwa Ramadhan itu mendatangkan bahagia.

Kalau selama ini kita memandang bahwa Ramadhan dan segala barang bawaannya (puasa, tarawih, sodaqoh, nahan nafsu, dll) sebagai beban, kita kayaknya bakal merasa berat buat ngelakuinnya.

Kalau rasanya aja udah berat, bakalan tuh kebawa-bawa sampai kesehariannya. Sejam puasa rasanya seperti ribuan tahun, bawaannya suntuk mulu.

Mulut rasanya kering dan gatel banget pengennya makan apa minum. Puasa jadi nggak bermakna.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Al-Baqarah: 183

Di antara milyaran orang yang menghuni jagad raya ini. Kitalah yang dikhususkan! Kitalah yang secara spesial mendapatkan surat cinta ini dari Allah.

KITA, iya KITA bukan orang lain.

Padahal banyak orang lain yang lebih pintar dari kita. Banyak orang lain yang jauh lebih kaya dari kita.

Padahal banyak orang lain yang jauh lebih cakep dari kita.

Enggak cuma itu, buat kita yang berbahagia ketika Ramadhan datang, Allah janjikan bahwa Ia akan melapangkan tempatnya di akhirat.

Enggak ada alasan buat sedih jika Ramadhan datang, soalnya ada banyak keberkahan istimewa di bulan ini:

“Jika Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, kemudian datang seorang penyeru dari sisi Allah yang Maha Besar Subhanahu Wa Ta’ala, ‘Wahai pencari kejahatan, berhentilah! Wahai pencari kebaikan, kemarilah!” Bukhori dan Muslim.

Buat siapa segala keberkahan itu? Buat kita, tentu saja jika kita berbahagia menyambut Ramadhan ini.

Setelah kita merasa berbahagia dengan kehadiran Ramadhan, yang bisa dibilang sebagai persiapan ruhiyah, maka semuanya akan berjalan lebih gampang.

Selanjutnya tinggal melakukan berbagai persiapan dengan sungguh-sungguh. Hal inilah salah satu faktor yang akan menunjang keberhasilan Ramadhan kita.

Habis itu apa aja yang yang musti dilakukan? Setidaknya ada beberapa hal yang mesti diupgrade cepet-cepet:

Pertama, persiapan ilmu, jangan sampe ibadah-ibadah yang kita lakuin di bulan Ramadhan sia-sia gara-gara kita cuma pake ilmu “kira-kira”.

Kedua, persiapan fisik, mulai latihan dari sekarang, cari aktifitas bermanfaat biar pas puasa kerjanya enggak tidur mulu!

Ketiga, perbanyak doa, perbarui tekad dan

Keempat, persiapan teknis, nyari acara-acara bermanfaat, ngatur jadwal biar efektif, nyiapin tempat ibadah yang nyaman.

Baiklah, walaupun sebenarnya masih ingin dilanjutkan lagi namun pada akhirnya waktu jualah yang membawa kita ke penghujung acara dan memisahkan kita, sebelum kita tutup acara kita hari ini, acara yang terakhir adalah doa.

Eh maaf kebawa perasaan sebagai pranoto adicoro..

Maksud saya tulisan singkat ini, yang terakhir saya akan tutup dengan seuntai doa,

Yaa Allah! Dekatkanlah kami kepada keridhoan-MU dan jauhkanlah kami dan kemurkaan serta balasan-MU. Berilah kami kemampuan untuk membaca ayat-ayat-MU dengan rahmat-MU, Yaa Arhamar Raahimiin, Wahai Yang Maha Pengasih dan semua Pengasih. Amiin Ya Allah.

Jangan dishare ya kecuali tulisan ini bermanfaat, karena apa? karena ini murni masalah perasaan. Maka ungkapkanlah perasaanmu..