Kapan Sih Islam Masuk Ke Indonesia?

Posted on

Sepertinya momentum bulan Ramadhan ini tidak ada salahnya apabila saya akan menulis secara bersambung mengenai masuknya Islam di Indonesia.

Bagi yang suka dan minat akan sejarah Islam silahkan dibaca, bagi yang tidak silahkan di skip saja.

Baiklah kita mulai pada tulisan awal saat ini mengenai beberapa teori tentang masuknya Islam ke Indonesia.

Sebenarnya, ada sebagian sejarawan itu masih pada resah dan gelisah loh dengan berbagai pertanyaan seperti, Kapan sih Islam masuk ke Indonesia?

Apa bener dibawa oleh para saudagar (disebut pedagang juga boleh, disebut wiraniagawan apa wirausahawan juga ndak pa pa) atau di bawa oleh para guru-guru tasawuf?

Terus dari mana asal mereka dan daerah mana di Indonesia ini yang pertama-tama menerima ajaran Islam?

Apa mereka datang dari Arab, India atau China terus apa yang menerima ajaran pertama Islam itu di Pulau Sumatra duluan atau Jawa, atau Kalimantan, atau mungkin Sulawesi?

Nah dalam menentukan kapan Islam masuk ke Indonesia, telah banyak teori yang mencoba mengungkapkan. Ada baiknya kita bahas aja sekalian satu persatu.

Teori yang pertama itu teori Gujarat, menurut teori ini Islam itu masuk ke Nusantara Indonesia abad 13 M dan daerah yang pertama dimasuki adalah Kesultanan Samodra Pasai.

Kemudian Islam itu datang tidak langsung dari Arabia namun melalui ajaran tasawuf yang berkembang di India.

Teori ini kurang membahas mazhab apa yang dibawa dari gujarat dan apa waktu itu Islam masuk ke Samodra Pasai langsung mendirikan kesultanan dan kekuasaan politik atau tidak?

Teori ini kawan, di perkenalkan oleh Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje kemudian di ikuti oleh sejarawan-sejarawan Belanda.

Nah teori yang kedua adalah teori Makkah. Teori ini diungkapkan oleh Prof. Dr. Buya Hamka dalam Seminar Masuknya Agama Islam di Indonesia di Medan pada tahun 1963.

Beliau mengungkapkannya berdasarkan dari Berita Cina Dinasti Tang yang mana agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 M.

Dan dituliskan dalam Berita Cina Dinasti Tang pula kalo saat itu ditemukan daerah hunian wirausahawan Arab Islam di pantai barat Sumatra.

Setelah teori Gujarat dan teori Makkah, selanjutnya teori Persia yang di kemukakan oleh Prof. Dr. Abubakar Atjeh yang mengikuti pandangan Dr. Hoesein Djajadiningrat.

Teori ini mengatakan Islam masuk dari Persia dan bermazhab Syia’ah, pendapat ini berdasar pada sistem baca atau sistem mengeja membaca Al-Qur’an terutama di Jawa Barat.

Namun teori ini dianggap lemah karena tidak semua pengguna sistem baca huruf Al-Qur’an tersebut di Persia penganut Mazhab Syi’ah.

Oke setelah itu teori Cina, teori ini diungkapkan oleh Prof. Dr. Slamet Muljana pada tahun 1968 dalam Runtuhnja Keradjaan Hindu Djawa dan Timbulnja Negara-Negara Islam di Nusantara.

Beliau juga berpendapat kalo Sultan Demak adalah orang peranakan Cina, terus para para Wali Sanga juga merupakan keturunan Cina.

Namun pendapat ini rupanya bertentangan dengan Kronik Klenteng Sam Po Kong, karena belum tentu seluruh nama pelaku sejarah dan nama yang dicinakan seperti Sultan Demak punya nama Cina Panembahan Jin Bun, putri Raja Wikramawardhana yang bernama Suhita dan sebagai Ratu Kerajaan Hindu Majapahit punya nama Cina Su King Ta dan lain sebagainya dalam penulisan Kronik Klenteng Sam Po Kong ditafsirkan menjadi orang Cina semuanya.

Inilah yang menjadikan Prof. Dr. G.W.J. Drewes Guru Besar Islamologi dari Universitas Leiden menyatakan bahwa pengambilan data yang dikumpulkan oleh Prof. Dr. Slamet Muljana tidak tepat dan tidak beralasan.

Kemudian teori yang terakhir adalah teori maritim yang mengatakan kalo ajaran Islam itu mulai dikenalkan di sepanjang jalan laut niaga di pantai-pantai tempat persinggahannya para navigator, mualim dan wirausaha Muslim yang dinamik dalam penguasaan maritim dan pasar.

Menurut N.A. Baloch sejarawan asal Pakistan, masuk dan berkembangnya agama Islam itu mulai dari pantai-pantai Nusantara Indonesia hingga di Cina Utara oleh para wirausahawan Arab.

Dijelaskan pula dalam The Advent of Islam in Indonesia bahwa Islam masuk pada abad ke 1 H atau 7 M, kemudian pengembangan dakwah pengenalan ajaran Islam terjadi selama lima abad yaitu dari abad ke 1-5 H atau 7-12 M.

Selanjutnya N.A. Baloch menjelaskan mulai abad ke 6 atau 13 M merupakan pengembangan Islam hingga ke pedalaman.

Nah dakwah selanjutnya itu dilakukan oleh wirausahawan-wirausahawan pribumi. Selain itu dimulai dari Aceh pada abad ke 9 M baru kemudian ke wilayah-wilayah lainnya.

Semua itu diperkuat juga sama Thomas W. Arnold yang menuliskan walaupun di Madinah dan Makkah, terjadi peperangan selama sepuluh tahun antara 622-632 M.

Namun, tidaklah memutuskan jalan laut niaga yang telah mentradisi. Perniagaan berlangsung terus di wilayah yang terbentang antara Timur Tengah, India dengan Cina.

Apalagi setelah perang tersebut berakhir pada masa Khulafur Rasyidin, kontak niaga semakin lancar.

Para sahabat Rasulullah SAW juga banyak yang meninggalkan Madinah, menjadi para da’i di luar Jazirah Arabia.

Banyak juga makam para sahabat dan keluarga Rasulullah SAW berada di luar Jazirah Arabia, misalnya di Kanton, Cina terdapat makam paman Rasulullah SAW yang sangat dihormati.