Peran Cina Yang Tidak Diketahui Dalam Perkembangan Islam Di Asia

Posted on

Saya enggak nyangka ternyata ada juga yang minat membaca tema sejarah Islam, kirain sukanya main Mobile Legend aja.

Nah buat yang belum baca tulisan pertama silahkan di secroll kebawah ya.

Baiklah kita lanjut tulisan yang kemaren ya. Ternyata tidak hanya wirausahawan arab saja yang telah sampai ke Nusantara Indonesia pada masa itu.

Masih ada pertanyaan lagi yaitu bagaimanakah peran dari wirausahawan Cina Islam dalam dakwahnya di Indonesia pada abad 7 M?

Rupanya hal ini masih menjadi permasalahan sendiri, mengapa? Karena kita tahu juga bahwa pedagang dan wirausahawan Cina sangatlah dominan.

Kita pun jarang mendengar tentang Laksamana Laut Cheng Ho dalam rangka kunjungannya ke Timur Tengah dan Nusantara Indonesia pada tahun 1405-1430 M.

Nah kalau kita mau melihat kembali ke sejarah lampau tentang bagaimana hubungan diplomatik antara Cina dan Arabia rupanya bukanlah hal yang baru.

Muslim di Cina percaya bahwa Saad bin Abi Waqash – lah yang dikatakan membawa Islam ke Cina tahun 616 Masehi.

Di Cina pun telah dibangun masjid bernama Masjid Huaisheng, masjid ini dipercaya menjadi peninggalan Islam tertua di Cina.

Masjid ini menurut sejarah dibangun bersamaan datangnya Saad bin Abi Waqash di Cina sekitar tahun 627 M.

Sejak era datangnya Islam di Cina, Masjid Huaisheng berperan penting sebagai pusat penyebaran agama Islam.

Bahkan hingga sekarang pun, masjid ini menjadi masjid utama di Guangzhou, Cina.

Peninggalan lain yang juga dikatakan peninggalan Islam tertua di Cina adalah Masjid Besar Xian. Masjid ini dibangun pertama kali pada tahun 742 Masehi.

Hubungan diplomatik antara Cina dan Arabia dahulu rupanya telah terjalin sejak masa Khulafur Rasyidin yaitu 632-661 M dengan Dinasti Tang pada masa 618-907 M.

Masih ingat kan Dinasti Tang yang menjadi rujukan Hamka mengenai kapan Islam datang ke Indonesia di tulisan sebelumnya.

Rupanya hubungan diplomatik ini pun berlanjut pada masa Khalifah Al Walid I, 705-715 M karena daerah pengaruh Umayah I berdekatan dengan Cina.

Jenderal Qutaibah sebagai Gubernur Khurasan, membawahi Bukhara, Samarkand dan wilayah lainnya ternyata berbatasan dekat dengan wilayah Cina.

Nah posisi daerah pengaruh Umayah I ini yang berdekatan dengan wilayah kekaisaran Cina dalam menjalin hubungan diplomatik membuat Khalifah Hisyam dari Umayah I mengirimkan duta utusan diplomatik Sulaiman (istilah sekarang itu diplomat) ke Kaisar Hsuan Tsung dari Dinasti Tang.

Selanjutnya pada masa Abbasiyah 750-1258 M, terjalinlah hubungan kerja sama pertahanan antara Khalifah Abu Ja’far Al Mansur dengan Kaisar Su Tsung.

Ini terbukti dengan bantuan Laskar Abbasiyah dalam kerja sama menumpas pemberontakan Si-ngan-fu dan Ho-nan-fu.

Setelah menumpas pemberontakan tersebut, Laskar Abbasiyah tersebut tidak kembali ke Baghdad, malah menetap di daratan Cina.

Maka pada akhirnya komunitas Muslim di Cina pun semakin bertambah.

500 tahun kemudian, dinasti Kubilai Khan memberi perhatian besar terhadap perkembangan Islam.

Nah dinasti Kaisar Kubilai Khan 1260-1294 M, menyebutkan nama dinastinya adalah Dinasti Yuan 1279-1368 M. Yang kemudian lanjut ke era Dinasti Ming 1368-1644 M dan Dinasti Qing 1644-1912 M.

Pada saat mereka berkuasa, beberapa masjid di Cina pun mengalami perluasan.

Ini yang perlu kita perhatikan, sangat langkanya kita dalam penulisan sejarah, bagaimanakah peran generasi Dinasti Genghis Khan yang mempunyai perhatian besar terhadap Islam.

Ini terbukti dengan adanya pengangkatan Abdurahman sebagai Menteri Keuangan dan Perpajakan pada tahun 1244 M dan Umar Syamsudin yang mana dikenal sebagai Sayid Ajall, kelahiran Bukhara, pada 1259 M diangkat sebagai Menteri Keuangan dan merangkap menjadi Gubernur Yunan.

Masih terdengar saat ini dan kurang sampainya ke masyarakat Muslim Indonesia.

Bahwasannya masyarakat hanya disuguhi dengan sosok Genghis Khan dan dinastinya yang menghancurkan Islam terus kemudian kekuasaannya meliputi Yunan.

Namun, anehnya tidak disebutkan kalo di Yunan terdapat masyarakat Islam yang besar.

Nah nama Yunan sendiri dalam sejarah Indonesia hanya dituliskan sebagai tempat asal “bangsa Indonesia”.

Datangnya sebagai imigran dari Tonkin, Annam, Cochin China, ke Nusantara Indonesia terjadi pada masa pra sejarah.

Anehnya lagi, dalam penulisan sejarah selanjutnya setelah masa prehistory atau prasejarah berlalu, masuk pada masa sejarah, malah tidak lagi disebutkan Yunan sebagai salah satu provinsi kekaisaran Cina yang mayoritas bangsanya beragama Islam.

Kemudian lagi tidak dibicarakan kembali Yunan sebagai tanah kelahiran Laksamana Laut Cheng Ho yang Muslim yang pernah singgah ke Nusantara Indonesia.

Habis itu juga belum pernah ada teori masuknya Islam ke Nusantara Indonesia dari Yunan.

Islam di Cina sendiri mayoritas berkembang di bagian utara dan barat laut Cina. Ini sejalan dengan jalur sutera dimana yang dilewati jalur sutera-lah Islam berkembang pesat di Cina.

Daerah Xi-an, Xinjiang, dan Ninxia adalah beberapa daerah di Cina yang kental dengan nuansa Islamnya.

Ada beberapa etnis yang diidentikkan dengan Islam di Cina. Yang paling besar dan berperan besar dalam sejarah Cina adalah etnis Hui.

Etnis ini merupakan etnis terbesar yang menganut agama Islam di Cina.

Sementara etnis kedua yang diidentikkan dengan Islam adalah Uighur. Etnis Uighur ini banyak berdiam di Xinjiang, dikatakan bahwa Etnis Uighur adalah keturunan Bangsa Turk yang berdiam di Cina.

Saat ini pun, terdapat 6 negara Turk berdaulat, yaitu Turki, Azerbaijan, Kazakhstan, Kirgizstan, Turkmenistan dan Uzbekistan.