Kenyataan Yang Pedih Perjalanan Islam Cina Mulai Dari Cheng Ho Sampai Mao Zedong

Posted on

Ternyata tanpa di rasa sudah sampai ke tulisan yang ke empat saja. Terima kasih kembali buat semuanya yang telah suka dan masih setia mengikutinya sampai saat ini.

Bagi yang ketinggalan dan belum baca sebelum-sebelumnya silahkan scroll aja ke bawah ya. Insya Allah sekarang kita akan lanjut kembali. Bacanya pelan-pelan ya.

Ketika sahabat Rasulullah SAW, Saad bin Abi Waqash menjejakkan kakinya pertama kali di Cina, Kaisar Yung-Wei yang berkuasa saat itu sangat menghargai Islam, dia melihat Islam sebagai agama yang dekat dengan Konfusianism atau kita lebih mengenalnya itu agama Kong Hu Cu.

Karenanya Saad pun mendapat kebebasan untuk menyebarkan ajaran Islam disana.

Jauh sebelum masa kerasulan Muhammad SAW, hubungan dagang pun sudah terjalin dengan Cina.

Masa kekhalifahan Bani Umayyah dan Abbasiyah malah makin meningkat pesat.

Kaum Muslim yang bermigrasi ke Cina pun membawa pengaruh ekonomi tersendiri, lembaga pelayaran pun sudah dibangun oleh kaum Muslim saat itu.

Bahkan pada masa Dinasti Sung 960-1279 M, mereka umat Muslim sudah mendominasi bisnis ekspor impor.

Menjelang akhir 1980-an, jumlah Muslim di Cina berjumlah 20 juta. Sensus pada 1982 menyebut angka sekitar 15 juta. Warga Muslim itu berasal dari 10 etnis yang berbeda.

Yang terbesar Hui, yang merupakan separuh dari populasi Muslim di Cina.

Di luar bangsa Han dan Hui yang mayoritas penganut Islam, banyak etnis lain di Cina yang ternyata tertarik juga untuk masuk Islam.

Pada era Dinasti Ming 1363-1644 M, Islam pun akhirnya tumbuh subur dan mencapai puncak kejayaannya.

Kelompok terbesar kedua adalah Uighur. Mereka umumnya tinggal di Propinsi Xinjiang.

Muslim di wilayah ini mencapai porsi 60% dari total populasi. Bahkan Xinjiang ketika itu telah memiliki lebih dari 24.000 masjid.

Sebut saja misalnya Masjid Agung Shaanxi di Urumqi sebagai  masjid yang tertua, ada juga Masjid Menara Emin yang bersebelahan dengan Menara Emin yang bisa menampung sekitar 1000 an jamaah, bahkan ada Masjid Id Kah di Kashgar yang mana bisa menampung kurang lebih 8000 orang.

Dan Masjid Id Kah ini merupakan masjid terbesar kala itu dan menjadi pusat budaya Islam Xinjiang Selatan.

Warga Muslim yang awalnya berstatus asing, dalam tradisi, bahasa dan keimigrasian, di bawah Dinasti Ming malah mendapat apresiasi tinggi.

Secara bertahap mereka mendapat perlakuan yang sama dengan warga lainnya, dan secara penuh kemudian bisa berintegrasi dengan masyarakat Han.

Ada yang menarik ternyata tentang perpaduan Cina dan Muslim ini, apakah itu?

Warga Muslim yang telah menikahi wanita Han kemudian mendapatkan nama keluarga Han.

Mereka yang menjadi  muslim kemudian mendapatkan nama panggilan Mo, Mi, dan Mu yang diadopsi dari nama-nama seperti Muhammad, Mustafa, dan Masoud.

Contoh lainnya adalah Ha (Hasan), Hu (Husein), dan Sai (Said).

Selain nama, mode pakaian Muslim dan pola makan menjadi bagian dari keharmonisan budaya Cina-Muslim.

Pada saat yang sama kaum Muslim mulai belajar tentang dialek Han dan membaca huruf Cina.

Pendek kata, pada Era Ming, kaum Muslim tak lagi diperlakukan berbeda dengan orang Cina lainnya.

Pada periode itu hanya ada sedikit saja gesekan budaya antara kelompok Muslim dan non Muslim.

Saat itu Kaisar Yung Lo dari Dinasti Ming memilih dan mengangkat Laksamana Cheng Ho yang kelahiran Yunan dan beragama Islam sebagai Laksamana Laut buat melakukan kunjungan dinas keluar negeri pada tahun 1405-1431 ke 35 negara.

Mengapa kaisar melakukan itu? rupanya kebijakan politik luar negeri Kaisar Yung Lo itu untuk memberitahukan ke dunia luar, bahwa ada rasa simpati Cina yang besar terhadap Islam, sekaligus menunjukkan ke Dunia Muslim bahwa Cina memiliki pasukan Muslim dalam jumlah besar.

Ini juga untuk menunjukkan bahwa kebijakan Dinasti Ming mempunyai rasa toleransi tinggi terhadap kemerdekaan beragama, maka pantaslah ketika itu umat Islam memperoleh kemakmuran.

Disampaikan oleh Sayyid Ali Akbar seorang wiraniagawan Muslim yang tinggal di Peking pada akhir abad ke 15 M dan awal abad ke 16 M jumlah orang Islam di kota Kenyafu saja terdapat 30.000 keluarga Muslim.

Mereka bebas pajak, memperoleh tanah dari kaisar dan tidak melarang bagi orang-orang Cina masuk Islam, bahkan saat itu di seluruh provinsi Cina terdapat sekitar 90 masjid dan seluruhnya dibangun dengan dana dari Kaisar.

Iya kalau kita ingat-ingat ya, kayaknya perjalanan dinas pejabat Laksamana Agung Muslim Cheng Ho dengan armada raksasanya yang menakjubkan kok malah enggak pernah kedengeran ya?

Kita dulu waktu sekolah malah tahunya kisah perjalanannya Christopher Columbus ke Amerika dan Vasco Da Gama ke India.

Tapi sekarang aneh juga kan kisah Columbus itu, yang katanya menemukan benua baru padahal kenyataannya menemukan apanya?

Lah di benua itu kan juga udah ada penghuninya, akhirnya yang ada malah penduduk asli benua tersebut di musnahkan dan berebut berbondong-bondong mereka menjajah benua tersebut.

Oke kembali ke kapalnya si Columbus sama Vasco Da Gama, kalau kita mau bandingin lagi ya, kedua armada kapal mereka itu kalau dimasukkan ke geladak kapalnya Laksamana Cheng Ho cukup loh, hey kok bisa? Cari aja gambarnya ada kok.

Berarti guedhee banget ya kapalnya. Menurut Frank Viviano dalam National Geographic Indonesia, jumlah Kapal Harta atau disebut Baochuan yang di pimpin Laksamana Cheng Ho itu berjumlah 42 buah.

Dengan ukuran panjang 120 meter, bagian terdalam 50 meter dengan 9 buah tiang dan geladak utama seluas 4.600 meter persegi.

Kapal tersebut diawaki oleh 30.000 pelaut dan marinir, 7 orang kasim berpangkat tinggi dan ratusan pejabat Ming, 180 tabib dan sejumlah pakar perkapalan, herbalis, pandai besi, tukang jahit, koki, akuntan, wiraniagawan, dan penerjemah.

Nah kalau pikirannya jelek nih, pasti deh armada yang sudah kuat itu bakalan dipake buat menjajah?

Waaah.. beda mas mbak ceritanya sama kehadiran Columbus dan Vasco Da Gama, armada yang kuat itu malah dijadikan media meningkatkan hubungan diplomatik dan kewiraniagaan.

Bahkan tidak lupa buat mereka membantu pengamanan wilayah laut dari perompak, ikut serta membangun sarana kelautan, pelabuhan laut.

Di Nusantara sendiri ikut membangun mercusuar di Cirebon terus membangun masjid Sam Po Kong di Semarang yang pada kelanjutannya sekarang malah berubah menjadi kelenteng.

Kunjungan kenegaraannya ke Nusantara, selain ke Kesultanan Samodra Pasai, Palembang, Pulau Bangka, juga ke Kalapa atau Jakarta serta Muara Jati di Cirebon.

Setelah itu lanjut ke Tuban, Gresik, dan Surabaya. Dari sinilah kemudian kunjungan Laksamana Laut Cheng Ho dengan 27.000 pasukan Muslim berpengaruh besar terhadap dakwah Islam ke Nusantara Indonesia.

Selain mubalighnya yang wirausahawan China, pasukan militer Islam Cina pun ikut berperan, tak heran meluaslah jumlah penganut Islam di kalangan Cina saat itu.

Nah sekali lagi membuktikan kalo Islam itu masuk ke Indonesia tidak dengan invasi, penyerangan atau menjajah secara militer.

Kemudian lagi kebanyakan juga, satu hal yang kurang diperhatikan oleh sebagian penulis sejarah, masuknya agama Islam ke Indonesia itu tidak memperhatikan faktor etnis Cina yang telah masuk Islam terlebih dahulu.

Padahal dahulu pada tahun 1416 M telah ada seorang Cina Muslim yang bernama Ma Huan yang datang di pantai utara Jawa.

Beliau menyusun dalam bukunya bahwa Jawa Timur atau disebutnya kawasan Kerajaan Hindu Majapahit telah terdapat etnis Cina yang beragama Islam.

Nah kalo sudah begitu pasti kita berfikir, apakah sejak abad ke 7 sudah ada etnis Cina yang beragama Islam seperti Cina yang telah mengenal Islam terlebih dahulu?

Baiklah sabar yaa.. sebelum menjawab pertanyaan itu, kayaknya kemaren ada deh yang bertanya-tanya kenapa kok Islam ditiadakan dari penulisan sejarah di Mongol dan Cina?

Begini kelanjutannya saudaraku…

Bermula dari naiknya singgasana Dinasti Qing 1644-1911 M, yang kemudian mengubah segalanya.

Qing adalah orang Manchu, bukan Han, dan mereka awalnya warga minoritas di Cina.

Mereka menggunakan politik ‘pecah belah dan menguasai’, mirip-mirip lah sama Devide Et Empera nya penjajah kita.

Kelanjutannya orang-orang Manchu ini berhasil membuat konflik antaretnis Muslim, Han, Tibet dan Mongolian.

Sehingga tersebarlah sentimen anti Islam kemana-mana. Bahkan orang-orang Han Muslim yang bekerja sebagai tentara diperintah untuk menekan wilayah-wilayah Muslim di kawasan itu.

Kok saya malah jadi teringat Perang Diponegoro yang dihadapkan kepada lawan yang bukan hanya Belanda yang jelas-jelas kulitnya putih, tapi malah orang indonesia sendiri yang kulitnya coklat yaitu laskar Susuhunan Surakarta dan Madura yang malah menjadi lawan terdepan Pangeran Diponegoro ya..

Eeeh malah loncat bahas Perang Diponegoro, balik fokus dulu maas..

Saya kok malah teringat juga dengan agresi militer Inggris yang membawa pasukan dari tempat jajahan mereka India Pakistan, ketika disuruh menyerang pasukan Indonesia terheran-heran kok mereka teriak Allahu Akbar juga, jadinya perlahan malah membelot deh mereka dari Inggris dan bergabung dengan pasukan Indonesia.

Heeeh fokus.. fokus.. kembali ke tema..

Oke baik tadi sampai mana? oh iya sampai orang-orang Manchu.

Nah keadaan pun berangsur membaik ketika Dinasti Manchu lengser pada tahun 1911.

Kemudian berdirilah Republik Rakyat Cina (RRC) di bawah pimpinan Dr. Sun Yat Sen yang mana segera membuat proklamasi bahwa orang-orang Han, Hui (Muslim), Man (Manchu), Meng (Mongolia), dan Tsang (Tibet) punya hak dan kedudukan yang sama.

Untuk sesaat, Sun Yat Sen berhasil mempersatukan golongan-golongan di Cina.

Namun keadaan itu rupanya hanya sesaat, ketika Sun Yat Sen lengser, kebijakan pemerintah RRC kembali represif menekan terhadap Muslim.

Terlebih setelah Mao Zedong melakukan revolusi tahun 1948 dan memerintah Cina dengan ideologi komunis.

Sejak itu Muslim dianggap minoritas dan harus diperangi.

Tahun 1953, kelompok muslim di cap dan dihembuskan isu sebagai kelompok separatis yang berusaha mendirikan negara sendiri.

Maka dengan dalih menumpas gerombolan separatis, sudah barang tentu legal dong angkatan bersenjata Cina kala itu secara brutal menyerang wilayah-wilayah Muslim.

Berkembanglah pada saat bersamaan, propaganda anti islam yang tiada henti terus dilakukan, bahkan dengan cara-cara lebih liar dan penuh kekerasan.

Masyarakat Muslim, etnis Uighur khususnya, mendapat penderitaan dan tekanan luar biasa dari rezim Mao Zedong dengan revolusi kebudayaannya.

Atas nama komunisme, mereka meneror dengan kampanye untuk menghabisi semuanya, tak luput dimulai dari akarnya Islam.

Seperti identitas etnis non-Cina. Uighur, yang selama berabad-abad menggunakan huruf Arab, dipaksa untuk mengadopsi huruf Latin.

Uighur yang umumnya beragama Islam dipaksa menjalani kerja paksa pada sekitar 30.000 kawasan komunis yang sebelumnya di dominasi muslim.

Para imam dan ustadz-ustadz disiksa, ditangkapi dan dijebloskan masuk penjara tanpa sebab.

Mereka juga dipaksa beternak babi, bahkan di lokasi yang dekat masjid yang pro-pemerintah.

Dengan dalih alasan penyamarataan dan penyatuan sistem pendidikan nasional, maka sekolah-sekolah madrasah Islam pun dipaksa tutup.

Murid-muridnya dipaksa masuk di sekolah-sekolah yang hanya mengajarkan Marxisme dan Maoisme.

Akibat kebijakan represif ini ada 29.000 masjid ditutup, para imamnya pun dihabisi.

Sekitar 360.000 Muslim juga di eksekusi tanpa alasan yang jelas.

Setelah Mao meninggal bersama pandangan Marxis garis kerasnya, pemerintahan komunis selanjutnya di Cina memberi kebebasan yang lebih besar bagi Islam dan kaum Muslim.

Tetapi tidak semudah itu ferguso keadaannya terbalik..

Ternyata diskriminasi masih saja berlanjut dan dilakukan oleh para imigran Cina dukungan pemerintah.

Pada akhirnya mereka Suku Uighur pun menepi tinggal di Propinsi Xinjiang dan Suku Han yang Muslim bermigrasi keluar.

Jumlahnya pun sekitar 200.000 per tahun. Banyak wilayah yang dahulunya dihuni mayoritas Muslim, kini menjadi wilayah minoritas.

Saat ini saja, dengan dalih memusnahkan ekstremisme agama, Cina telah mengawasi kampanye intensif pengawasan dan pemolisian massal minoritas Muslim.

Banyak dari mereka adalah orang-orang Uighur, sekelompok warga berbahasa Turki yang memiliki lebih banyak kesamaan dengan warga negara Asia Tengah daripada sesama warga China lainnya yang merupakan keturunan China Han.

Para peneliti mengatakan sebanyak 1,5 juta warga Uighur dan Muslim lainnya telah secara tak sengaja dikirim ke kamp pengasingan atau pendidikan ulang, klaim yang Cina bantah.

Media barat The Guardian mengungkapkan, Rahile Dawut, seorang akademisi Uighur terkemuka yang mendokumentasikan tempat-tempat suci di Xinjiang, menghilang pada tahun 2017.

Rekan dan kerabatnya percaya dia telah ditahan karena pekerjaannya dalam melestarikan tradisi Uighur.

Dawut mengatakan dalam sebuah wawancara pada tahun 2012,

“Jika seseorang menghapus … tempat-tempat suci ini, orang-orang Uighur akan kehilangan kontaknya dengan bumi. Mereka tidak lagi memiliki sejarah pribadi, budaya, dan spiritual.

Setelah beberapa tahun kami tidak akan memiliki ingatan tentang mengapa kami tinggal di sini.”

“Jika generasi saat ini ditahan dan warisan budaya yang mengingatkan mereka tentang asal mereka dihancurkan … ketika mereka tumbuh dewasa, ini akan menjadi asing bagi mereka,” kata seorang mantan warga Hotan, Xinjiang barat daya.

Di yakini masih ada sejumlah orang Uighur yang ditahan di kamp-kamp, banyak dari mereka dipisahkan dari keluarga mereka selama berbulan-bulan, kadang-kadang bertahun-tahun.

Mungkin inilah jawabannya secara tidak langsung, sepertinya semua hal tersebut merupakan salah satu strategi Cina dalam de-Islamisasi sejarah Mongol dan Cina.

Kira-kira adakah hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan Islam di Cina?

BERSAMBUNG..