Fakta Tentang Mongolia Yang Tidak Diketahui Dalam Perkembangan Islam Asia

Posted on

Ternyata minat yang membaca tulisan-tulisan sebelumnya sungguh tidak disangka, saya haturkan terima kasih buat teman-teman semua.

Baiklah dalam tulisan ketiga ini, saya akan menuliskan mengenai Islam di Mongolia. Kenapa?

Karena ini ada hubungannya dengan berkembangnya Islam di Asia.

Yang selanjutnya nanti juga ada hubungannya dengan Indonesia, kan Indonesia juga bagian dari Asia walaupun agak mojok kanan bawah sih.

Ada yang menarik teman-teman semuanya, apa itu?

Mengapa kita umat Muslim hanya mendengar bangsa Mongol itu kejam, bengis, tidak berperasaan, pembunuh, bar-bar, tak berperadaban dan sebagainya pokoknya yang jelek-jelek dan tidak pernah mendengar ada bagusnya sama sekali.

Tapi apakah kita mendengar bagaimana peran generasi keturunan dinasti Genghis Khan dalam kejayaan penyebaran Islam. Terutamanya di wilayah Asia.

Di kalangan sejarawan memperkirakan kedatangan Islam di Mongolia terjadi antara 1222 dan 1254.

Bukti awal mengenai keberadaan umat Islam di Mongolia diungkapkan oleh misionaris Kristen, William dari Rubruck, lewat catatan yang ia buat pada 1254.

Di catatan itu dia menyebutkan bahwa di Karakorum, ibu kota kekaisaran Mongol saat itu, ketika itu terdapat sembilan buah bangunan ibadah.

Tujuh di antaranya berupa kuil yang kemungkinan kuil Budha, Hindu, dan Taoism, sedangkan dua sisanya adalah masjid.

Sementara, menurut catatan lainnya, Genghis Khan disebut-sebut mempunyai ketertarikan terhadap Islam, meskipun dia sendiri tidak pernah memeluk agama Islam tersebut hingga akhir hayatnya.

Setelah berhasil menaklukkan Afghanistan, penguasa Mongol itu sempat mengunjungi Kota Bukhara di Transoksiana pada 1222.

Di sana, Genghis Khan menggali lebih banyak informasi tentang ajaran Islam dari penduduk Muslim kota itu.

Wilayah Cina Utara di invasi oleh Mongol pada tahun 1211. Tembok besar Cina pun tidak bisa menghalau.

Cucu Genghis Khan, Kubilai Khan, menyempurnakan penaklukkan Cina pada tahun 1279, sekitar setengah abad setelah kakeknya meninggal.

Nah Dinasti Mongol di Cina ini kemudian dikenal sebagai Dinasti Yuan.

Sepanjang 1330-an, 3 dari 4 emperium Khan utama Mongol bertransformasi menjadi kesultanan Muslim.

3 kekhanan itu adalah Horde Emas (Ulus Jochi), Ulus Hulagu, dan Ulus Chagatai.

Sejak awal perkembangannya, Genghis Khan sendiri sudah mengambil aspek kebudayaan Muslim untuk diterapkan bagi kemajuan bangsanya.

Ia mengadopsi aksara Uighur ke dalam bahasa Mongol dan mempercayakan pendidikan anak-anak lelakinya pada kalangan Uighur juga.

Dalam buku The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith karya Thomas Walker Arnold menuliskan bahwa salah satu cucu Genghis Khan, Berke Khan (1209 – 1266), tercatat sebagai salah satu penguasa Mongol pertama yang masuk Islam.

Ia resmi mengucapkan dua kalimat syahadat setelah menerima dakwah dari Syaifuddin Darwis, seorang ulama sufi dari Khawarizm.

Langkah Berke Khan tersebut selanjutnya perlahan diikuti oleh pemimpin-pemimpin Mongol yang lain. Mereka masuk Islam setelah menikahi perempuan Muslimah.

Nah masa kekuasaan Kubilai Khan, 1260-1294 M di awali 2 tahun setelah Baghdad dijatuhkan oleh Mongol, yaitu di bawah pimpinan Hulagu Khan, 1258 M.

Sejarawan Thomas W. Arnold, menguraikan bahwa saat itu terjadi Perang Salib dan dalam perang itu umat Muslim berhasil mengalahkan pasukan Salib.

Dalam pertempuran di Tripoli, 1289 M dan Acre 1291 M, menurut Crane Brinton dalam kedua pertempuran itu kalangan Kristen menderita kerugian sejumlah 60.000 orang.

Dengan kondisi Islam dan Kesultanan Turki kemudian banyaknya pengaruh keturunan Dinasti Genghis Khan yang kuat dan pandai berperang yang sudah masuk Islam, menjadi tidak mungkin untuk pasukan Salib untuk melawan secara langsung.

Maka dihembuskanlah bahwa orang-orang Mongol sebagai kaum bar-bar dan tidak berperadaban.

Itulah cara mereka mempertahankan diri menanggung malu atas ketidakberdayaan dan ini banyak diungkapkan oleh para sejarawan Barat demi mengecilkan peran orang-orang Mongol dalam menyebarkan Islam.

Tapi kalau mereka menghina orang-orang Mongol sebagai bangsa bar-bar yang tidak sopan santun, apakah mereka yang katanya mengaku sebagai pewaris para nabi dan sudah mengenal kitab suci malah tak kalah bar-barnya???

Jika bangsa Mongol menyerang Baghdad sebelum mereka mengenal agama maupun kitab suci bahkan dibilang bangsa tidak berperadaban karena menghancurkan perpustakaan keilmuan pada masa itu.

Bahkan ketika itu Baghdad di bawah khalifah Al Musta’shim mengatakan bahwa orang-orang Mongol akan menghadapi murka Allah jika mereka tetap menyerang kekhalifahan yang dipimpinnya.

Lah ya tentu saja pasukan Mongol merasa enggak ada hubungannya kali dengan murka Allah karena mereka sendiri kan menganut kepercayaan Syamanism yaitu menyembah bintang-bintang, dan sujud kepada matahari yang sedang terbit.

Bahkan ukuran moral mereka adalah ukuran moral bangsa padang rumput, karena mereka adalah bangsa nomaden yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Sisi lainnya ternyata dalam kehidupan bangsa Mongol semua warganya memiliki kemampuan untuk berburu, berperang dan bertahan hidup dalam konflik.

Keadaan alam yang keras membuat mereka terpaksa bertahan hidup dan memiliki skill tersebut.

Tapi tahukah bahwa orang-orang Mongol itu sangat hebat dan lihai berperang di atas kuda, sebuah ungkapan yang mengatakan “Orang Mongol dilahirkan, dibesarkan, makan dan mati diatas kuda.”

Sejak kecil para bocah-bocah Mongol sudah dilatih untuk bisa menaiki kuda.

Di tahun pertama, mereka dilatih oleh sang ibu dengan dibiasakan diikat di samping kuda.

Setahun kemudian anak-anak mereka sudah dipastikan ahli mengendalikan kuda.

Memasuki usia tiga tahun, mereka kemudian diperkenalkan dengan busur dan anak panah.

Kedua alat itu seakan menjadi aksesoris yang tidak bisa mereka lepaskan.

Sehingga wajar, jika anak-anak muda Mongol sudah sangat jago dalam berkuda dan memanah target musuhnya.

Karenanya mereka pun tak terkalahkan dan kelak menjadi salah satu pasukan elit Kesultanan Turki Ustmani setelah runtuhnya Kesultanan Abbasiyah.

Menurut Don Nardo dalam Genghis Khan and the Mongol Empire (2010), negara Islam yang berbatasan dengan Kekaisaran Mongol adalah Kerajaan Khawarizm.

Kerajaan yang dipimpin Shah Muhammad (1200-1220) ini terdiri dari sisa-sisa wilayah Kerajaan Seljuk dan menyatukan sebagian besar Persia. Leluhur Shah Muhammad orang Turki, tetapi ia dibesarkan dalam budaya kerajaan Persia.

Muncullah konflik antara khalifah negeri baru dan Kerajaan Khawarizm pimpinan Muhammad. Mungkin karena konflik ini atau karena ketergantungan besar Muhammad kepada prajurit-budak yang dipaksa bekerja keras, Khawarizm tak punya persiapan saat Genghis Khan dan pasukannya tiba di perbatasan dunia Islam pada 1219 M.

Firas Alkhateeb dalam Sejarah Islam yang Hilang: Menelusuri Kembali Kejayaan Muslim pada Masa lalu (2016), begitu Mongol sampai di kota musuh, garnisun yang bertahan diberi tiga pilihan.

Pertama, menghindari pertempuran, menyerah pada Mongol, dan bergabung dengan pasukan Mongol dalam operasi penaklukan lanjutan.

Pilihan kedua, perlawanan. Jika kota itu melawan Mongol dan kalah (seperti kebanyakan kota), seluruh pasukan akan dibunuh dan seisi kota dirampas.

Pilihan ketiga melibatkan perlawanan massal terhadap Mongol oleh pasukan dan orang sipil yang dipersenjatai.

Jika itu terjadi, Mongol berjanji akan membunuh setiap orang di dalam kota, dan inilah takdir banyak kota kecil dan besar di Asia.

Akan tetapi, Khawarizm memilih melawan Mongol.

Saat masuk ke daerah Khwarizmian, para pedagang dari Kekaisaran Mongol dihukum mati karena dianggap mata-mata.

Genghis khan, yang ingin menjalin hubungan damai dengan negara Islam itu, murka luar biasa dan bersumpah akan membalas dendam.

Pada tahun berikutnya, untuk pertama kalinya pasukan Mongol tiba di tanah Islam.

Nah Kedatangan ini mengawali periode penghancuran kebudayaan Islam mulai dari Persia, Bagdad dan Syam.

Saya sendiri menyimpulkan paling tidak ada 5 penyebab runtuhnya Kesultanan Abbasiyah di Badgdad sehingga tidak bisa menahan serbuan bangsa Mongolia:

Pertama yaitu kondisi internal pemerintahan Khalifah Al Musta’shim saat itu yang terlalu lalai, lemah dan terlena dengan keduniawian.

Bahkan ketika itu tidak memiliki pasukan tentara militer tempur sendiri, yang ada hanya tentara pengawal khalifah. Beliau terlalu percaya diri dengan pertahanan dan keamaanan yang seadanya itu.

Di lain hal Khalifah digambarkan sebagai orang yang sangat menggemari hiburan, menari, mendengarkan musik dan nyanyian hingga hampir tiada waktu kecuali di dalamnya terdapat sajian hiburan semacam itu meskipun 1 atau 2 jam.

Kedua adalah pengkhianatan dari penasehatnya sendiri, seorang penganut Syiah yang bernama Umayiduddin Muhammad Al-Aqami, yang ingin mengambil kesempatan dengan menipu Khalifah.

Al-Aqami berkata kepada Khalifah Al Musta’shim, “Saya telah menemui mereka untuk perjanjian damai. Hulagu Khan ingin mengawinkan anak perempuannya dengan Abu Bakr Ibn Musta’shim, putera Khalifah. Dengan demikian, Hulagu Khan akan menjamin kedudukanmu. Ia tidak menginginkan sesuatu kecuali kepatuhan, sebagaimana saudara-saudaramu terhadap sultan-sultan Seljuk.”

Namun apa yang dikatakan penasehatnya itu ternyata tidaklah benar, seketika itu pula mereka semua terbunuh.

Ketiga, terlalu percaya dengan bangsa asing saat itu khususnya keturunan Turki dan Persia, dan sebaliknya bangsanya sendiri bangsa Arab terlupakan kurang diberi perhatian.

Posisi-posisi penting pemerintahan dan ekonomi diberikan kepada orang-orang bangsa Turki dan Persia, bahkan hingga pengawal-pengawal Kerajaan.

Maka kedudukan mereka pun bertambah kuat dan perlahan menguasai kebijakan-kebijakan khalifah sehingga khalifah terpaksa mengikuti arahan mereka.

Paling tidak tercatat ada 27 orang Khalifah setelah Khalifah Al Mutawakkil (819-847 M), nah dari situ ada 12 orang Khalifah yang kedudukannya dipermainkan oleh para pengawal istana dari Turki.

Sebagai contoh, Khalifah Al Musta’shim sendiri, kemudian Khalifah Al Mu’taz yang hanya berkuasa selama 3 bulan terus dipaksa turun tahta oleh pengawalnya sendiri.

Terus ada Khalifah Al Muhtadi yang dipaksa turun dan dipenjarakan karena konflik dengan orang Turki, dan Khalifah-Khalifah yang lain yang di singkirkan, dipecat, dibunuh atau dipenjarakan oleh para pengawalnya dari Turki.

Selanjutnya keempat adalah kemunduran dalam bidang politik dan kemerosotan ekonomi. Pada zaman awal pemerintahan Dinasti Kesultanan Abbasiyah merupakan kerajaan yang kaya hingga Baitul Mal penuh dengan harta.

Namun setelah banyak wilayah-wilayah melepaskan diri, pemasukan pun berkurang. Pemerintahan saat itu pun mengerahkan pemungut pajak, tapi ada pula beberapa pemungut pajak yang korupsi dan memonopoli hasil pajak.

Selain itu terjadinya beberapa kerusuhan yang menyebabkan para pedagang pendatang takut untuk berkunjung ke Bagdad.

Pertanian juga terganggu akibat lumpur dan sungai nahrawan yang mengaliri Bagdad mengalami kerusakan besar akibat perang dan salurannya tidak diperbaiki.

Yang terakhir munculnya banyak pemberontakan di wilayah kekhalifahan Abbasiyah ketika itu.

Mulai dari gerakan syiah Qamitah pimpinan Hamdan Qarmat, gerakan Hasyasyin pimpinan Hasan bin Sabbah, hingga kerajaan Bani Buwaih juga melakukan pemberontakan atas pemerintahan Bagdad pada saat itu.

Yuk mari kita bandingkan dengan pimpinan Amerika George W. Bush yang bangsanya lebih beradab, lebih sopan santun, lebih menghargai ilmu, mengenal agama dan kitab suci, terus kan ndak bengis seperti Genghis Khan hehe….

Tapi bagaimana penyerangan dibawah pemerintahannya ke Baghdad yang katanya memburu terorisme dan menegakkan demokrasi itu.

Alih-alih berhasil menangkap teroris dan mendirikan negara yang makmur di kehendaki masyarakat Irak, yang ada sih sesuai kehendak Amerika Serikat.

Buktinya bom bunuh diri menentang pemerintahan boneka Amerika terjadi disana-sini, korban keganasan senjata-senjata pemusnah masal yang diciptakan bangsa beradab ini masih dirasakan, tawanan-tawanan perang yang disiksa, dihina, dan dilecehkan juga ada.

Heran, makanya yang lebih tidak beradab terhadap Baghdad itu siapa? Kalau bangsa Mongol dibilang saat itu belum mengenal Islam atau belum mengenal agama dibilang tidak beradab ya wajarlah memang bangsa nomaden yang tidak beradab.

Nah tapi kalau sudah dibilang bangsa yang beradab namun malah melakukan kebiadaban, apa itu masih bisa dibilang beradab???

Eh kok sampai pelajaran adab sopan santun ya, wah jadi lupa, baiklah besok lagi kita lanjut kenapa peran Islam dalam penulisan sejarah Islam di Mongol dan Cina ditiadakan?

BERSAMBUNG..