Mengungkap Kembali Sejarah Yang Hilang Dari Perkembangan Islam Ke Indonesia

Posted on

Saya rasa tulisan yang ke-5 ini merupakan penutup dari edisi bersambung tulisan-tulisan sebelumnya.

Kembali saya haturkan terima kasih yang sudah suka dan setia mengikutinya sejak dari edisi tulisan yang pertama.

Memang tidak bisa saya tiba-tiba langsung tulis mengenai Islam di Indonesia, karenanya saya harus memberikan gambaran dulu tentang Islam di Asia. Mau enggak mau karena memang berkaitan.

Baiklah, tunggu apalagi mari kita lanjut membacanya.

Di pulau Jawa pada abad ke 7 M, masa itu, Islam tumbuh hampir bersamaan dengan tumbuhnya kekuasaan Hindu Budha di Sumatra dan Jawa.

Sempat dilupakan bahwa pertama kali dulu Hindu Budha hanya sebagai gerakan agama, namun di periode berikutnya di India lahirlah kekuasaan politik Hindu dan Budha.

Akhirnya membawa pengaruh ke Indonesia tidak hanya sekedar agama namun muncul juga menjadi kekuasaan politik Hindu Budha.

Islam pun seiring waktu menggantikan kekuasaan dari kerajaan-kerajaan Hindu Budha.

Misalnya saja di Pulau Sumatra, Aceh abad ke 9 M berkembang bersamaan kerajaan Sriwijaya di Jambi.

Tapi kerajaan Budha itu enggak bisa melanjutkan sejarahnya, kenapa? kalau waktu SD-SMP sih kita diajarinya karena serangan Islam.

Padahal runtuhnya kerajaan Budha Sriwijaya bukan karena serangan Islam, melainkan serangan Kerajaan Hindu Chola dari Tamil dan Drawida yang datang dari ujung selatan India pada 1000 M.

Merujuk dari catatan sejarah Dinasti Tang, Islam sebagai agama telah datang duluan sebelum pembangunan Candi Budha yang terkenal itu, yaitu Candi Borobudur.

Dalam catatan itu tertulis Islam datang ke Jawa pada abad 7 M sedangkan Candi Budha Borobudur di Magelang Jawa Tengah baru didirikan pada abad 9 M.

Pada abad ke 11 M, di wilayah yang berada di pesisir utara Jawa yaitu Leran, Kecamatan Manyar, sekitar 5 km arah utara kota Gresik, Jawa Timur.

Telah ada wilayah kekuasaan komunitas Islam yang dibangun oleh Fatimah Hibatoellah binti Maimoen yang wafat pada Desember 1082 M.

Keberadaan kekuasaan Islam itu tersebut bersamaan waktunya dengan masa tahta kekuasaan Hindu Kediri di bawah Raja Airlangga 1019-1042 M dan Raja Praboe 1135-1157 M.

Bahkan kekuasaan Islam di Leran, Gresik Jawa Timur itu jauh sebelum Kerajaan Hindu Majapahit dibangun di Trowulan Mojokerto, Jawa Timur 1294 M.

Fakta ini menggambarkan bawah kekuasaan Hindu, Budha dan Islam bisa dikatakan hampir bersamaan waktu keberadaannya di Nusantara.

Namun dalam perjalanan sejarah berikutnya, agama Islam lah yang mampu menjadi milik mayoritas bangsa Indonesia.

Sejarawan Thomas W. Arnold dan M.C. Ricklefs mengungkapkan kalau sekitar abad ke 15 M para wirausahawan atau pedagang Cina juga ikut serta mengembangkan ajaran Islam di Indonesia.

Nah pada saat meredupnya kekuasaan dibawah naungan Hindu dan Budha serta berkembangnya kekuasaan Islam.

Datanglah penjajah Barat untuk pertama kalinya ke nusantara kita. Inilah imperialisme pertama mereka.

Apa itu imperialisme? Suatu sistem penjajahan langsung dari suatu negara terhadap negara lainnya.

Penjajahan dilakukan dengan membentuk pemerintahan jajahan atau dengan menanamkan pengaruh pada semua bidang kehidupan di daerah jajahan.

Yaitu di awali oleh Kerajaan Katolik Portugis yang menduduki Malaka 1511 M, kemudian diikuti Kerajaan Prostestan Belanda menduduki Jayakarta, 1619 M.

Di kita kalangan umat Islam itu kadang lupa karena memasuki abad ke 20 M, maka dibikinlah lawan Islam yang tampil di permukaan waktu itu adalah komunisme.

Namun lupa akan sejarah imperialisme Barat itu tidak bisa dilepaskan dari gerakan misionaris Katolik dan Protestan yang terjadi pada abad ke 16 atau ke 17 M.

Dengan runtuhnya Granada Spanyol pada tahun 1494 M, dari tangan umat Islam ke umat Kristen.

Jane I. Smith dalam karyanya Islam and Christendom, menuliskan bahwa hilanglah toleransi beragama dan kedamaian dalam berniaga.

Sebaliknya timbullah penindasan di luar kemanusiaan, umat Islam dipaksa alih agama ke Kristen, jika tidak harus meninggalkan Spanyol dengan syarat harus meninggalkan anak-anaknya.

Kebanyakan dari mereka pun enggak sanggup, yang pada akhirnya memilih masuk Kristen.

Kalau masih enggak mau juga beralih ke Kristen maka dibakar hidup-hidup.

Tak hanya itu dihembuskan pula gerakan anti semitisme, yang artinya anti Islam dan anti Yahudi. Yang mana ini tidak pernah terjadi pada masa Islam berkuasa.

Sebenarnya kalangan gereja Katolik atau Protestan itu belum memahami kalau bumi itu bulat, paling enggak sampai abad ke 16 M.

Lah yang berani menyatakan bumi itu bulat atau menentangnya bakal di bakar hidup-hidup, bahkan Martin Luther saja yang dikatakan bapak reformasi mereka juga enggak mau mengakui. Kenapa?

Karena pemahaman bumi bulat itu berasal dari pakar geografi islam, sebut saja Al Kindi dan Al biruni.

Nah ini menarik sebenarnya saudara..

Pada tahun 1488 M, kerajaan Katolik Portugis baru berhasil berlayar ke Tanjung Pengharapan Afrika Selatan, tapi belum tahu bagaimana arah jalan ke India atau ke Nusantara Indonesia.

Ditulis oleh Sir Thomas Arnold dalam karyanya The Legacy of Islam, kerajaan Katolik Portugis ini baru bisa sampai ke India diantar oleh seorang mualim bernama Ahmad bin Majid, seorang navigator Muslim sekaligus sebagai penemu kompas yang pertama.

Tentu saja, beliau enggak tahu apa maksud dan tujuan imperialis Portugis ini.

Sedangkan kerajaan Katolik Spanyol atau kerajaan Hispania tahun 1492 M baru sampai ke Kepulauan Karibia, kalau sekarang itu Amerika Latin.

Lah ini menariknya saudara, karena mereka tidak mengetahui tentang India sebenarnya maka penduduk asli Kepulauan Karibia dan benua Amerika disebut sebagai Indian.

Imperialisme Barat itu pada awalnya muncul dari isi Perjanjian Tordesilas, di Valladolid, Spanyol 7 Juni 1494 M atau tidak lama setelah Christopher Colombus menemukan Benua Amerika pada 1492.

Perjanjian ini dibikin oleh Kerajaan Katolik Portugis dan Kerajaan Katolik Spanyol. Dipimpin oleh Paus Alexander VI, 1492-1503 M.

Isi perjanjian ini Paus Alexander VI memberikan kewenangan kepada kedua kerajaan Katolik tersebut.

Mereka membagi dunia menjadi dua untuk dijelajahi oleh Spanyol dan Portugis.

Singkatnya, penjelajahan ke arah timur akan dijelajahi Portugis, dan ke arah barat akan dijelajahi Spanyol.

Dan sebagaimana kita tahu, Paus Alexander VI juga membenarkan tentang imperialismenya dengan tujuan:

GOLD – emas, dengan menjajah akan memperoleh kekayaan yang dirampas dari tanah jajahan

GOSPEL – pengembangan agama Katolik di tanah jajahan

GLORY – kejayaan

Maksude pripun sedulur? jadi dengan memperoleh Gold dan Gospel dari negara penjajah maka akan diperolehlah kejayaan bagi mereka.

Nah sekarang mari kita tengok bagaimana kedatangan para penjajah ini?

Ya tentu saja berbeda lah dengan Laksamana Cheng Ho. Coba dibaca lagi deh tulisan sebelumnya.

Hayoo.. tebak-tebakan, duluan mana yang nemuin Amerika waktu itu, Cina duluan atau Spanyol?

Masih ingat enggak kapan Laksamana Cheng Ho diberi wewenang istilahnya sekarang itu ‘paspor dinas’ kunjungan ke luar negeri?

John Ruskamp, salah seorang ahli kimia dan peneliti prasasti kuno dari Illinois, menemukan tulisan-tulisan kuno yang tak lazim saat berjalan-jalan di Monumen Nasional Petroglyph, di Albuquerqe, New Mexico, AS.

Ruskamp mengklaim tulisan-tulisan kuno itu menunjukkan bahwa bangsa Asia sudah merambah benua Amerika pada 1.300 SM atau hampir 2.800 tahun sebelum kapal yang digunakan Columbus ‘menemukan’ Dunia Baru saat tiba di kepulauan Karibia pada 1492.

“Tulisan China kuno di Amerika Utara ini tak mungkin tulisan palsu karena usia dan gaya tulisannya berusia sangat tua,” kata si Ruskamp.

“Penelitian ilmiah memastikan bahwa bangsa China kuno sudah mengeksplorasi dan berinteraksi dengan penduduk asli Amerika lebih dari 2.500 tahun lalu,” tambah dia.

Ruskamp melanjutkan lagi, dari temuan itu, diduga kuat bangsa China hanya melakukan ekspedisi dan tidak mendirikan permukiman di benua Amerika.

Sekali lagi saudara, ekspedisi menjalin hubungan kenegaraan bukannya menjajah.

Diyakini bahwa kontak antara bangsa China dan penduduk asli Amerika sudah terjadi sangat lama.

Ruskamp mengklaim telah mengidentifikasi 84 piktogram di berbagai lokasi di AS, termasuk New Mexico, California, Oklahoma, Utah, Arizona, dan Nevada.

Piktogram itu sudah pada diteliti oleh para pakar naskah kuno China dan piktogram itu tampaknya merupakan bentuk tulisan yang digunakan bangsa China ribuan tahun lalu.

Puluhan piktogram yang berada di bebatuan New Mexico itu tampaknya digunakan pada masa kekuasaan Dinasti Shang pada 1766-1122 SM.

Baiklah mari kita kembali lagi ke bentuk penjajahan Barat yang tadi.

Kita kembali memperhatikan motivasi kedatangan Columbus dan Vasco Da Gama yang mana untuk mematuhi keputusan Paus Alexander VI dalam perjanjian Tordesilas.

Isi perjanjian Tordesilas ini mengungkapkan bahwa negara luar selain yang dihuninya dianggap wilayah yang tak bertuan, istilahnya itu ‘terra nullius’ alias wilayah kosong tanpa pemilik.

Serta bangsa-bangsa yang diluar negara Gereja dinilai bangsa yang biadab.

Akhirnya terjadilah mission sacre atau misi suci dan genocide atau pemusnahan bangsa di Meksiko dan bangsa Indian di benua Amerika.

Maka dari itu Kerajaan Katolik Spanyol diberikan kewenangan untuk menguasai dunia belahan barat dan Kerajaan Katolik Portugis diberi kewenangan untuk menguasai dunia belahan timur.

Kita dapat simpulkan kalo perjanjian Todersilas inilah yang menjadikan sumber lahirnya imperialisme Barat menjajah negara-negara di Asia dan Afrika.

Tapi belum selesai sampai itu saja, kan belum sampai asia tenggara atau nusantara Indonesia.

Maka di lanjut lagi tanda tangannya dong ke perjanjian selanjutnya yaitu Perjanjian Zaragoza, bisa ditulis juga Saragosa atau Saragossa.

Perjanjian Zaragoza  merupakan tindak lanjut dari perundingan sebelumnya, yakni Perjanjian Tordesillas.

Sejak ditandatanganinya Perjanjian Zaragoza pada 22 April 1529, Spanyol harus segera hengkang dari Kepulauan Maluku dan fokus menjalankan kegiatannya di Filipina.

Berkat kesepakatan ini pula, Portugis sepenuhnya ‘berhak’ atas monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku.

Namun, Perjanjian Zaragoza tidak cuma mencakup dua kepulauan di Asia Tenggara tersebut. Lebih dari itu.

Kesepakatan yang tertulis dalam perjanjian ini pada intinya adalah membagi luar Eropa menjadi dua, untuk Spanyol dan Portugis.

Yang bakalan nantinya bangsa-bangsa Barat lainnya juga turut berebut wilayah-wilayah di berbagai belahan bumi yang sebenarnya bukan milik mereka.

Pada abad ke 16 M, motivasi kedatangan Kerajaan Katolik Portugis dan Spanyol ke Asia Tenggara pun hanya untuk melancarkan perampokan, ngakunya sih buat cari sama jualan rempah-rempah.

Dan peperangan dengan tujuan reconquista atau penaklukan kembali Islam dan menegakkan penjajahan serta melakukan tugas suci pengembangan agama Katolik dengan cara pemaksaan.

Terus yang menjadi pertanyaan pada saat itu kalau misalnya telah dijajah apa mungkin yang melawan penjajah tersebut adalah orang-orang Kristen atau Katolik sendiri?

Tapi kok kayak enggak mungkin, kan pada masa itu mereka merupakan bagian dari penjajah sendiri.

Nah terus siapakah rata-rata pencetus perlawanan penjajah di bumi nusantara saat itu?

Kalau misalnya kita menjawab ulama dan umat Muslim kira-kira pantas enggak?

Kalau kita jawab iya pantas tapi kok sepertinya kita enggak pernah dengar ya peran mereka dalam sejarah Indonesia?

Apakah ini salah satu cara agar umat Islam ini tidak mengetahui kebesaran peradaban dan kejayaan Islam sebelumnya?

Atau jangan-jangan kesengajaan de-Islamisasi sejarah Indonesia seperti rakyat Uighur di Cina?

Kalau menurut saya sih itu semua di sengaja tidak dituliskan, karena penjajah kita itu telah mengetahui bahwa dalam ajaran Islam telah mencakup semua hal.

Tauhid, moral, kemasyarakatan, sosial, politik, hukum, pemerintahan, ekonomi dan lain sebagainya, kemudian yang paling membahayakan adalah politik dan kemerdekaan.

Sebentar, tapi apakah kita umat Muslim sendiri menyadarinya kalau Islam itu mencakup semua hal?

Sayang sekali yah kayaknya kita umat Muslim malah kurang akrab sama ajaran agamanya sendiri dan telat mengetahuinya.

Terkadang kita itu enggak sadar kalau Islam itu meliputi semua kegiatan kita, mulai bangun tidur sampai tidur kembali.

Baiklah dilanjut dulu tinggal sedikit lagi niih..

Karena itulah penjajahan ini selalu mendapatkan perlawanan yang keras dari umat Islam, dan penjajah sadar akan hal itu, tidak mungkin melawan dengan perang secara langsung namun pemahaman umat Muslim terhadap ajarannya harus dikikis dan lama-lama dibelokkan.

Maka berbagai cara pun dilakukan dengan propaganda, adu domba, mempelajari Islam untuk mengetahui kelemahan-kelemahan umat Islam Indonesia dan menerapkan berbagai kebijakan baik ekonomi, politik, pemerintahan ataupun pendidikan yang mendiskriminasikan dan mengecilkan peran Islam buat bangsa Indonesia ini.

Kayaknya segini dulu ya, nah untuk sejarah modernnya kok enggak ada? insya Allah jika yang suka sama yang minat banyak yah dilanjut lagi lain waktu.

Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari semua sejarah perjalanan Islam Asia sampai ke Indonesia.

Sekian dan terima kasih.