3 Alasan Kenapa Enggak Mau Tau Sama Palestina​

Posted on

Jangan pernah berhenti untuk syukuri nikmat yang telah Allah SWT berikan ke kita. Di saat kita berbuka puasa di tengah keluarga tercinta dengan segala nikmat kenyamanan dan kedamaian hidup.

Janganlah kita lupa ada saudara-saudara kita di belahan bumi lainnya juga sedang berbuka puasa dengan keadaan yang sangat menyedihkan.

Bulan Ramadhan kali ini kita disuguhi banyak gambar dan video mengenai penyerangan Israel ke Palestina. Terulang dan terulang kembali.

Palestina merupakan tanah yang Istimewa bagi kaum Muslimin.

Sampai-sampai Sultan Abdul Hamid II, Khalifah Turki Utsmaniyah menjelang keruntuhannya tetap mempertahankan Palestina mati-matian. Ketika datang utusan Zionis untuk membeli Palestina, beliau menolak dan mengatakan ”..aku lebih memilih tubuhku yang terpotong daripada Palestina terpotong dari tanah Kaum Muslimin..”

”Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hambaNya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (Al-Isra’: 1)

Al-Qur’an sendiri telah menyebut tanah di sekitar Al-Aqsha sebagai ”tempat yang diberkahi”.

Nabi Muhammad SAW pun juga menyebut beberapa keistimewaan lain dari Al-Aqsa, misalnya saja ia adalah tempat dibangkitkan dan dikumpulkannya manusia di akhir zaman, tempat adanya segolongan orang yang sampai akhir zaman tetap membela kebenaran, juga lokasi dari Masjidil Aqsa merupakan satu dari tiga masjid yang disunnahkan untuk dikunjung.

Yang mana semua itu ada di Palestina yang juga menjadi tanah para nabi.

Khalifah Umar bin Khattab pun telah mewakafkan tanah Palestina untuk kaum Muslimin. Para pejuang Islam juga telah mempertahankan perdamaian di sana dengan jihad, darah, dan keringat.

Bagaimana dengan kita, apakah sudah termasuk berperan di dalamnya? Kira-kira apa yang sudah dapat kita perbuat?

Biasanya ada saja yang membuat umat ini terkadang tidak mau tau atau peduli dengan apa yang terjadi di Palestina.

Tetapi mudahnya bagi yang suka banget beralasan, saya menyederhanakannya menjadi tiga saja dan kira-kira masuk di bagian manakah diri kita.

Alasan pertama adalah karena memang pada dasarnya diri kita tuh orangnya nggak pedulian. Dunianya cuma dunianya sendiri. Kurang kesadaran, elo pikirin diri lo sendiri, gue ya gue. Yang terakhir puncaknya lo gue wassalam, kalo the end dah banyak soalnya hee..

Alasan kedua yang biasanya bikin kita nggak peduli sama Palestina adalah minimnya informasi. Tapi di era zaman teknologi informasi saat ini, sepertinya informasi telah banyak melimpah tinggal bagaimana kita memilih dan memilahnya.

Alasan ketiga yang membuat seseorang tidak peduli pada Palestina adalah minimnya pemahaman mengenai masalah Palestina.

Ada orang yang dapat informasi melimpah soal Palestina tapi sulit diajak untuk peduli. Udah gitu sayangnya, mereka bingung nggak tau mau ngapain.

Palestina jauh sih, gimana cara ngebantunya? Wah kalo yang ini kayaknya ketahuan orangnya kurang imajinatif, kreatif, inovatif ditambah bawaannya negatif.

Kita pun juga masih bertanya-tanya tentang sejauh mana solidaritas Arab itu sendiri dalam gerakannya, yang tidak hanya dalam bentuk retorika semata.

Bangsa Arab khususnya, dan bangsa Muslim pada umumnya sudah lama merindukan adanya semacam aksi bersama seperti yang pernah terjadi pada masa perang Oktober 1973, yaitu ketika negara-negara Arab mampu menggunakan ‘senjata minyak’ mereka untuk memaksa negara-negara Barat mengambil jarak dengan rezim Zionis yang masih menduduki tanah Arab dan Palestina.

Jelas sudah bukan waktunya lagi untuk selalu memohon belas kasihan kepada PBB, apalagi Amerika, yang sudah tidak bisa lagi dipercaya untuk menjalankan fungsinya sebagai mediator yang adil.

Fenomena yang terus berkecamuk di Palestina belakangan ini perlu dilihat dalam kerangka sejarah panjang perjalanan Yahudi, Kristen, Zionisme dan kepentingan imperialis Barat.

Ada baiknya kita mampu memetakan permasalahan ini dengan tepat, baik berdasar nash-nash Al-Qur’an dan hadist, maupun fakta-fakta sejarah yang memungkinkan kaum Muslim mengambil sikap dan tindakan yang tepat.

Apakah bom syahid merupakan cara yang tepat? Atau harus berdamai dan bernegosiasi untuk mendapatkan 20 persen wilayah Palestina yaitu Tepi Barat dan Jalur Gaza dengan cara mengakui eksistensi Israel?

Wajibkah kaum Muslim merebut kembali semua wilayah Palestina yang diduduki Israel saat ini sekaligus walau sudah disahkan pula oleh PBB?

Atau menyerang langsung dengan mengerahkan seluruh angkatan bersenjata yang dimiliki atau mungkin serangan frontal sendiri-sendiri?

Tapi sungguh sayang beribu sayang, masih banyak permasalahan sebelum itu yang harus dibenahi terlebih dahulu dalam internal umat Muslim ini.

Yang paling utama adalah mengembalikan persatuan dan kesatuan umat Muslim, barulah mendiskusikan bersama dari seluruh para pemimpin dan cendekiawan Muslim internasional untuk segera menemukan solusi dan mengambil tindakan-tindakan jangka panjang yang istiqomah.

Saat ini pun telah syahid 7 martir, termasuk ibu hamil dan putrinya, 18 bulan. 45 warga sipil terluka akibat serangan Israel sejak awal ramadhan di Jalur Gaza.

Mereka pun melawan dengan apa yang mereka sanggup. Mereka pun tak tahu entah mau sampai kapan keadaan seperti ini, entah sampai kapan menunggu umat Muslim bersatu.