Aisha

Posted on

Aisha bisa jadi adalah seorang wanita di antara sekian wanita Muslimah yang dilanda perasaan cemas, khawatir, dan takut.

Bahkan kadangkala muncul juga lintasan ketidakrelaan hati akan takdirnya sebagai seorang wanita.

Pasalnya, teks-teks hadist nabawi bahkan sisi ajaran Islam yang didengar dan diamatinya selama ini selalu menyoroti perangai dan tabiat wanita yang buruk-buruk, sehingga kaum wanita pada akhirnya menjadi mayoritas penghuni neraka.

Lebih-lebih kalau dia harus pergi mengaji di depan ustadz yang suka menyudutkan wanita.

Di depan ustadz yang tipe seperti ini, kayaknya kaum hawa ini tidak ada sisi baiknya.

Pikir dia, argumentasi dari teks-teks hadist yang mencela wanita itu kok ya benar (valid).

Namun, ia juga tak habis pikir mengapa wanita harus dicela, padahal populasi manusia termasuk kaum laki-laki tak lepas dari peran keberadaannya.

Terngiang-ngiang di telinganya, ucapan seorang ustadz menyitir hadist-hadist nabawi,

“lelaki yang sempurna itu banyak, tetapi wanita yang sempurna itu hanya Aisyah (isteri Fir’aun), Maryam binti Imran, dan Khadijah binti Khuwailid,” “Wahai wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar, sesungguhnya aku melihatmu mayoritas penghuni neraka, karena kamu banyak mencela dan durhaka kepada suami,” dan “wanita adalah fitnah terbesar bagi laki-laki paska wafatnya Rasulullah SAW.”

Nurani Aisha pun lebih berontak lagi manakala disebut-sebut “takutlah kamu akan wanita, sesungguhnya iblis menjadikan wanita perangkap yang paling efektif untuk menundukkan orang-orang yang bertakwa.” Na’udzu billah.

Mengapa aku tidak menjadi laki-laki saja ya? Kalimat itu sempat terlintas di pikirannya.

Namun Aisha tidak hendak mengikuti pandangan para pemikir feminis liberal semacam Riffat Hasan (Pakistan), Fatima Mernissi (Maroko), Masdar F Mas’udi dan semacamnya.

Ringan saja alasannya, pemberontakan mereka terhadap teologi wanita dalam Islam rasa-rasanya justru keluar dari fitrah kewanitaan.

Apalagi penganjur kesetaraan gender itu dengan berani menuduh dua sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu Umar bin Khattab dan Abu Hurairah, sebagai pengedar teks-teks hadist yang memojokkan wanita.

Di lain waktu ingin rasanya bisa mencontoh Ibu Kartini, tetapi sejarah kemuslimahan pahlawan wanita ini belum bisa ditelusurinya.

Aisha terus dan terus mencari jawaban dari kegalauan hatinya.

Dan setelah melahirkan anak dari seorang suami yang sholih, barulah jawaban pas didapatinya.

Ia membuka kembali literatur-literatur klasik Islam dan membandingkannya dengan teks-teks kitab suci Al-Qur’an dan Al-Hadist, di samping nasehat-nasehat dari para ulama salaf akhirnya menjadi ramuan mujarab akan ketidaktenangan dia selama ini.

Ketika disebutkan wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ada benarnya memang.

Karena sejak di dunia, kuantitas wanita memang lebih banyak daripada kaum laki-laki.

Lihat misalnya, sewaktu majelis taklim. Siapa yang mendominasi?

Sisi lain, ia mendapati bahwa kelak wanita pun menjadi mayoritas penghuni surga.

Beberapa hadist yang sahih menyebutkan kelak satu lelaki surga akan mendapatkan istri dari bangsa manusia ditambah tujuh puluh bidadari, dan tidak ada ceritanya kan bidadari itu laki-laki.

Aisha pun lega hati manakala menyimak dengan seksama ‘dawuh-dawuh’ manusia utama yang menjadi panutannya: wanita sholihah adalah perhiasan dunia paling mulia, wanita yang sabar kala ditimpa kematian dua atau tiga bayinya dijamin surga, wanita asal menjalankan sholat lima waktu, puasa dan mentaati suami dijamin masuk surga dari pintu yang dikehendakinya dan sebagainya.

Puas dan bahagia rasanya menjadi wanita, apalagi kala mendengar untaian hadist,

“surga itu berada di bawah telapak kaki ibu,” dan “pekerjaan wanita dalam rumah tangganya juga menyamai jihad, sholat berjamaah, dan hajinya kaum laki-laki.”

Ternyata luar biasa sekali penghargaan Islam terhadap kaum Hawa.

Mengapa ini tidak disadari dan ditanggapi positif oleh kaumnya?

Andaikan saja banyak Muslimah mau belajar dan mengenal lebih dekat lagi akan ajaran agamanya pasti sangat indah sekali, namun mengapa mereka enggan? gumam Aisha.