Kembali ke Fitrah

Posted on

Barusan saja kita merayakan hari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1440 Hijriah.

Yang mana merupakan hari yang telah ditunggu-tunggu oleh umat Islam, hari di saat yang membahagiakan, terutama sekali bagi para hambaNya yang mampu dan mensyukuri nikmatNya.

Ketika itu kalimat-kalimat takbir, tahlil, dan tahmid tak henti-hentinya dikumandangkan sebagai tanda kemenangan kita semua.

Kita telah berhasil menaklukkan hawa nafsu. Tak disadari pula bahwa kemenangan kita itu diperoleh dari kekuatan yang kita sandang pada saat kita telah berhasil menyempurnakan puasa dengan baik dan benar.

Kekuatan itu telah mampu mengalahkan gejolak perasaan emosi kita, dan kekuatan itu telah menguji ketahanan fisik kita dalam menahan lapar dan dahaga bahkan menahan diri juga dari hal-hal lain yang sifatnya untuk memenuhi kebutuhan fisik.

Dalam keadaan yang demikian, bersyukur kita masih diberikan kemampuan dalam melakukan rutinitas sehari-hari dengan baik.

Mental pun juga tak kalah dilatih, disaat diri kita berpuasa. Kita diuji bagaimana menahan diri untuk tidak marah, menggunjing, bahkan mencela.

Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang kuat itu, bukanlah karena kekuatan fisiknya tetapi orang kuat itu adalah yang mampu menahan gejolak jiwanya saat marah.”

Kita pun juga telah diberi semacam guide sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Apabila ia dicela oleh seseorang atau diperangi, hendaknya dia berkata: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Namun bagaimanakah diri ini setelah melewati hari-hari penuh berkah nan suci tersebut?

Idul Fitri yang kita telah nanti telah kita lewati sebagai penutup ibadah puasa Ramadhan yang penuh barokah.

Saat itu keluarlah semua umat muslimin untuk melaksanakan sholat Id di masjid-masjid, musholla, atau lapangan terbuka.

Mereka disunnahkan mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki serta menyemarakkan dan menyiarkan suasana Idul Fitri sebagai kemenangan umat Islam setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.

Tak lupa pula dianjurkan untuk menyampaikan selamat dan tahniah kita kepada keluarga, tetangga, kerabat, dan umat muslim lainnya dengan berjabat tangan sambil berdoa,

“Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan juga anda. Dan semoga Allah menjadikan kita semua orang-orang yang kembali kepada fitrah dan berjaya.”

Bahkan kita pun masih diingatkan sebelum menjelang bulan Ramadhan dengan sabda Rasulullah,

“Ya Allah tolong abaikan puasa umat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal berikut: tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada orang tuanya (jika masih ada), tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami isteri, tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Maka Rasulullah pun mengatakan amiin sebanyak tiga kali.”

Begitulah nilai-nilai Islam mengajarkan agar umatnya dapat mengambil hikmah dari Idul Fitri.

Yang mana Idul Fitri berarti kembali kepada kesucian diri, setelah diri kita digodok selama bulan Ramadhan.

Namun adapula yang mengartikan fithr itu adalah asal kejadian manusia. Maka berarti Idul Fitri adalah mengingat kembali asal kejadian manusia.

Kita pun mengetahui manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.

Sungguh indah nilai ukhuwah yang terkandung dalam ajaran Islam.

Setelah menyelesaikan ibadah puasa dan di pagi harinya kita merayakan sholat Id, kemudian kita syiarkan dengan tahniah, silaturrahim, dan halal bihalal, yang mana insya Allah semua yang kita lakukan ini akan mengembalikan kita kepada fitrah dan mampu membangkitkan rasa kasih sayang, kepada sesama, melahirkan simpati kepada orang-orang tak mampu dan mewujudkan sosial kepada kaum dhuafa.

Itulah salah satu wujud mengapa disyariatkan pula kita membayar zakat fitrah sebagai pembersih jiwa bagi orang yang telah berpuasa dan sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap saudara-saudara kita sehingga mereka dapat merasakan kegembiraan dan kebahagiaan bersama kita.

“Dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang berpuasa, dan memberi makan bagi orang miskin. Barang siapa yang menunaikannya sebelum sholat hari raya, maka zakat itu diterima, dan barang siapa membayarnya setelah sholat maka zakat itu sebagai sedekah biasa.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Suatu proses panjang selama satu bulan penuh dengan peningkatan ibadah telah kita lalui, hari raya Idul Fitri pun telah kita laksanakan.

Sejak saat itu pula, kita umat muslim telah kembali ke fitrahnya yang suci.

Kita seolah-olah merupakan bayi yang telah lahir kembali. Saat ini dan esok harinya, kita akan membuka lagi lembaran baru dalam kehidupan kita.

Lembaran-lembaran baru itu telah bersih dan hendaknya janganlah dikotori.

Bekal kita dalam bulan Ramadhan ini hendaknya dipertahankan dan ditingkatkan untuk selalu dekat denganNya dalam bertakwa dan menjauhi larangan-laranganNya.

Di akhir tulisan ini, saya akan menutupnya dengan sebuah hadist.

Berharap kita semua kelak kedepannya dapat menjadi lebih baik lagi serta dapat selalu meningkatkan ibadah kita untuk meraih predikat “muttaqin.”

Rasulullah SAW bersabda,

“Apabila datang Idul Fitri, para malaikat berjaga di pintu-pintu jalan. Mereka memanggil: Wahai umat Islam, pergilah menghadap Tuhanmu yang Maha Pemurah, niscaya Tuhanmu akan menganugerahkan kebaikan dan memberi pahala yang melimpah. Kalian telah diperintahkan untuk qiyamullail dan hal itu telah kalian laksanakan. Kalian diperintahkan untuk berpuasa di siang hari dan telah kalian lakukan. Kalian telah berbuat taat kepada Tuhan, maka terimalah imbalannya. Dan apabila mereka (umat Islam) melakukan sholat Id, malaikat memanggil: Sesungguhnya Tuhan telah mengampuni kalian, maka kembalilah ke jalan kalian secara baik-baik, hari ini adalah hari pemberian imbalan, demikian juga di langit dinamai “yaumal jaizah”. (HR. Thabrani)

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Taqobballahu Minna Wa Minkum. Taqobballahu ya Karim. Minal Aidin wal Faidzin. Kullu Amin wa Antum fi Khoir.